MAKALAH
MANAJEMEN KEARSIPAN
OBSERVASI KEARSIPAN PUSKESMAS BANTUL II

DI SUSUN OLEH :
SAMSUR RIZAL
( 03.14.3516 )
D/RS/IV
KONSENTRASI MANAJEMEN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
PROGRAM STUDI MANAJEMEN ADMINISTRASI
AKADEMI MANAJEMEN ADMINISTRASI
YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita
panjatkan ke hadirat Allah SWT, Rabbiul’Izzah yang telah melimpahkan taufiq dan
hidayahNya kepada kita dengan di utusnya para rasul untuk membimbing manusia ke
jalan yang benar sebagai wujud nyata kesempurnaan kasih sayangNya atas para
hamba.
Di era zaman ini banyak sekali
instansi kantor ataupun organisasi memilki pandangan yang sangat keliru tentang
kearsipan, dengan memandang kearsipan adalah hal yang mudah dan tidak sukar
untuk di lakukan tetapi nyatanya banyak di dunia kerja saat ini yang memiliki
banyak kendala – kendala berkaitan dengan kearsipan karena menyerahkan urusan
kearsipan pada orang – orang yang kurang tepat dan kurang paham kearsipan itu
sendiri.
Demikian makalah ini saya susun
guna mengetahui bagaimana kearsipan yang baik dan benar dan guna untuk memenuhi
tugas perkuliahan mata kuliah manajemen kearsipan, semoga memberi manfaat dan
berguna bagi pembaca dan penilai sehingga di harapkan dengan sangat mampu
memberikan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di tugas – tugas yang
akan datang.
Yogyakarta,
11 Juni 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...................................................................................1
BAB II KAJIAN
TEORI
A.
Kajian Teori – Teori...........................................................................3
BAB III HASIL OBSERVASI
A. Profil
Puskesmas Bantul II...............................................................12
B. Masalah
Kearsipan Bantul II............................................................14
BAB IV PEMBAHASAN
A. Hasil
Observasi dan Teori kearsipan.................................................18
BAB V DESIGN MANAJEMEN
KEARSIPAN
A.
Design Manajemen kearsipan Puskesmas Bantul
II.........................27
BAB VI PENUTUP
A.
Kesimpulan.....................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
LATAR BELAKANG
A.
Latar
Belakang Masalah
Di zaman yang moderen dan serba maju ini banyak sekali instansi kantor
ataupun organisasi memilki pandangan yang sangat keliru tentang kearsipan,
dengan memandang kearsipan adalah hal yang mudah dan tidak sukar untuk di
lakukan tetapi nyatanya banyak di dunia kerja saat ini yang memiliki banyak
kendala – kendala berkaitan dengan kearsipan karena menyerahkan urusan
kearsipan pada orang – orang yang kurang tepat dan kurang paham kearsipan itu
sendiri.
George R. Terry dalam bukunya
“Office Management and Control” mengatakan kearsipan (Filing) penempatan kertas
– kertas dalam tempat – tempat penyimpanan yang baik dan menurut aturan yang
telah ditentukan terlebih dahulu sedemikian rupa sehingga setiap kertas (Surat)
apabila diperlukan dapat di temukan kembali dengan mudah dan cepat. Dan sebenarnya
ada istilah untuk “Arsip” yang sudah merupakan istilah Indonesia yaitu
“Partinggal” yang berarti berkas – berkas yang di simpan sebagai bahan
pengingat dan lembar catatan atau dalam wujud lain yang disimpan untuk
pengingatn apabila diperlukan. Dan makna dari “Partinggal” ini adalah lembaran
atau berkas yang terdapat di dalam simpananbarang tersebut sudah di simpan
menurut tata cara yang benar dan sudah berlaku.
Dari penjelasan di atas dapat kita
ketahui betapa pentingnya arsip dan kearsipan ini, oleh karena itu kearsipan
ini membutuhkan tenaga hli atau SDM yang paham akan kearsipan guna melaksanakan
tugas – tugas dalam pengarsipan baik prosedur, cara penyimpanan, pemeliharaan,
retensi dan pemusnahan, serta peralatan dan perlengkapan dalam kearsipan
tersebut agar terciptanya sistem administrasi yang baik dan benar dari segi
kearsipan.
Karena masalah SDM yang belum
menaplikasikan ilmu tentang sapa itu kearsipan, dan sistem manajemen kearsipan
yang baik dan benar itu seperti apa karena
di puskesmas ini masih minim
pengaplikasian sistem kearsipan yang baik dan benar sesuai teori – teori
manajemen kearsipan sehingga hal inilah yang membuat kami tertarik melakuakan
observasi di Puskesmas Bantul II ini dan berusaha memeberikan design sistem
manajemen kearsipan yang baik dan benar sesuai dengan teori – teori yang ada
sehingga membantu dalam tahap/ kegiatan AKREDITASI Puskesmas Bantul II.
Sehingga tidak hanya maju di bidang pelayanan kesehatan, tetapi dibidang
administrasi manajemen perkantorannya dan juga manajemen kearsipannya.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Kajian Teori – teori
1.
Arsip Rekam medis
Merupakan
arsip yang berisikan catatan fakta tentang ciri –ciri dan kondisi pasien,
permintaan diagnosis dan pengobatan, hasil pemeriksaan dan kemajuan yang
dicapai dan persetujuan atas tindakan – tindakan . sistem penyimpanan berkas
rekam medis yang lazim digunakan sarana pelayanan kesehatan ada 3 (Straight Numerical,Terminal digit filing,
Middle digit). Di antara yang ketiga tersebut yang sering digunkan adalah Straight Numerical
Straight
Numerical adalah pengurutan penyimpanan Rekam medis mulai dari
Primer,skunder,tersier.
Contoh
: 10 – 82 – 64 ( angka 64 akan terus bertambah sampai lebih dari 100 akan
berubah) Menjadi 10 – 83 – 00 dan seterusnya.
Keuntungan sistem ini adalah :
a.
Petugas biasa dengan cara ini mudah
dilatih.
b.
Mudah retriev untuk keperluan riset urut
waktu.
c.
Mudah memilih RM yang inaktif.
Kerugian sistem ini adalah :
a.
Mudah Misfile.
b.
Mudah salah mentranskrip nomor.
c.
Mudah untuk mentranspose bila nomor
tertulis terbalik.
d.
Nomor yang besar akan berkumpulnya file
aktifpada data lokasi yang sama.
e.
Sulit membagi tugas karena bedasarkan
pada lokasi yang sama.
2.
Definisi Arsip
a.
Menurut Undang – undang No.7 tahun 1971,
arsip adalah
1)
Naskah – naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga –
lembaga dan badan – badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun, baik dalam
keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan
pemerintahan;
2)
Naskah – naskah yang dibuat dan
diterima oleh badan – badan swasta
ataupun perorangan, dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun
berkelompok dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.
b.
George R. Terry dalam bukunya “Office
Management and Control” mengatakan kearsipan (Filing) penempatan kertas –
kertas dalam tempat – tempat penyimpanan yang baik dan menurut aturan yang
telah ditentukan terlebih dahulu sedemikian rupa sehingga setiap kertas (Surat)
apabila diperlukan dapat di temukan kembali dengan mudah dan cepat.
3.
Penangan surat masuk dan keluar
a.
Surat masuk
Penanganan surat masuk adalah semua
kegiatan yang dilakukan sejak penerimaan surat masuk, pengelolahan/penyelesaian
hingga surat tersebut tersimpan salah satunya Penanganan surat masuk sistem buku agenda
Buku agenda adalah suatu buku yang
dipergunakan untuk mencatat surat-surat masuk dan keluar dalam satu tahun.
Petugas yang mengagendakan surat disebut agendaris.
Prosedur penanganan surat masuk
sistem buku agenda adalah sebagai berikut:
a.
Penerimaan surat.
b.
Penyortiran surat.
c.
Pencatatan surat.
d.
Pengarahan surat.
e.
Penyampaian surat.
f.
Penyimpanan
arsip surat.
b.
Surat Keluar
Surat keluar adalah surat yang dibuat/dikirimkan
oleh suatu instansi/kantor kepada pihak lain, baik perseorangan, kelompok
maupun suatu lembaga.
Prosedur penanganan surat keluar
sistem buku agenda adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan
konsep
b. Persetujuan
konsep
c. Pencatatan
Surat
d. Pengetikan
Konsep Surat
e. Pemeriksaan
Pengetikan
f. Penandatanganan
Surat
g. Pemberian
Cap Dinas
h. Melipat
surat dan Penyampulan surat (dengan Kop dan nomor surat).
i.
Pengiriman surat.
j.
Penyimpanan
arsip surat.
4.
Peralatan dan Perlengkapan kearsipan
Untuk dapat menata arsip dengan
kecepatan tinggi dan sedikit kesalahan di perlukan peralatan dan perlengkapan
yang sanggup menjalankan fungsi setiap sistem dan metode dengan sebaik –baiknya.
a.
Kriteria Pemilihan peralatan
Yang
perlu di pertimbangkan untuk pengadaan suatu peralatan adalah :
1)
Bentuk alami dari arsip yang akan
disimpan.
2)
Frekuensi penggunaan arsip.
3)
Lama arsip di simpan (Aktif /Inaktif).
4)
Lokasi fasilitas penyimpanan.
5)
Besar ruangan penyimpanan.
6)
Tipe dan letak penyimpanan.
7)
Bentuk orgnisasi.
8)
Tingkat perlindungan terhadap arsip.
b.
Tipe peralatan penyimpanan
Alat
penyimpanan arsip yang berjumlah banyak dapat di kelompokan dalam 3 jenis alat
penyimpanan, yaitu :
1)
Alat penyimpanan tegak (vertical file)
Merupakan
jenis yang dipergunakan dalam kegiatan pengurusan arsip. Contoh : Almari arsip /
filing cabinet.
2)
Alat penyimpanan menyamping (lateral file)
Merupakan
cara penyimpanan Arsip yang vertikal tetapi tetap dikatakan literal karena
letak map – mapnya menyamping. Contoh : penyimpanan arsip dalam laci.
3)
Alat penyimpanan berat (power file)
Sering
di sebut juga alat penyimpanan elektrik adalah
penggunaan tenaga mesin dan mengurangi tenaga manusia dalam urusan
kearsipan.
c.
Perlengkapan penyimpanan (filing supplies)
Kebanyakan
kantor atau organisasi saat ii menyediakan perlengkapan untuk penyimpanan
arsip, yaitu :
1)
Penyekat dan Guide
Penyekat
adalah lembaran yang digunakan sebagai
pembatas dari arsip – arsip yang di simpan. Dan guide adalah label yang
berisikan kata tangkap sebagai penunjuk yang di tempelkan pada penyekat.
2)
Map (Folder)
Tempat
penyimpanan jenis – jenis dokumen dengan jumlah tertentu.
3)
Kata tangkap
Judul
yang terdapat pada tonjolan disebut kata tangkap baik dalam bentuk abjad,nama,
maupun subjek.
4)
Alat bantu kearsipan
Peralatan pelengkap
yang membantu memudahkan proses kearsipan seperti Label pada laci,penyekat, dan
folder.
5.
Sistem penyimpanan
Merupakan sistem yang digunakan pada penyimpanan warkat
agar kemudahan kerja penyimpanan dapat diciptakan dan penemuan warkat yang
sudah di simpan dapat dilakukan dengan cepat bilamana warkat tersebut sewaktu –
waktu diperlukan.
6.
Klasifikasi Sistem penyimpanan
a.
Sistem abjad
Merupakan
penyimpanan yang di dasarkan atas urutan abjad, jadi pemberian kode warkat yang
akan di simpan dalam arsip dengan menggunakan abjad dari A – Z .
b.
Sistem Pokok soal (Subjek)
Merupakan
penyimpanan arsip yang di dasarkan atas perihal surat (pokok soal isi surat).
c.
Sistem tanggal (Kronologis)
Merupakan
penyimpanan arsip yang didasarkan atas tanggal surat atau tanggal penerimaan
surat.
d.
Sistem Nomor (Numeric filing)
Merupakan
penyimpanan arsip yang akan disimpan diberi nomor kode dengan angka – angaka .
e.
Sistem wilayah ( Geographic filing)
Merupakan
penyimpanan arsip yang dikelompokkan atas wilayah – wilayah.
7.
Penilaian arsip
Perinsip
penilaian suatu kearsipan dapat digolongkan berdasarkan :
a.
Prinsip manfaat
Dengan
penilaian yang dilakukan secara teratur memungkinkan dapat di cek pada setiap
saat, sehingga dapat diketahui : “Cukup baikkah apa yang dilaksanakan ?” dengan
demikian dapat diketahui apakah yang dilaksanakan itu masih cukup bermanfaat,
berarti tidak perlu diadakan perubahan, karena dipandang masih cukup
bermanfaat.
b.
Prinsip Kecepatan
Merupakan
suatu saluran untuk menuju ke sumber informasi bagi kegiatan suatu organisasi.
Dengan Management information system (MIS)
maka informasi yang diperlukan harus mempunyai tingkat keteraturan yang memadai
serta keepatan waktu apabila diperlukan.
c.
Prinsip efisiensi
Merupakan
penyelenggaraan kearsipan dapat mencapai daya guna yang semaksimal mungkin baik
dari segi waktu (kecepatan penemuan kembali), dari segi hasil (jumlah informasi
yang disajikan). Dan merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam penilaian
terhadap penyelenggaraan kearsipan.
Ada juga kriteria – kriteria dalam
sebuah penilaian, salah satunya kriteria
penilaian arsip yang umum adalah ALFRED, yaitu :
1) Administrasi
value ( Nilai administrasi )
2) Legal value (
Nilai hukum )
3) Financial value (
Nilai materil/uang)
4) Research value (
Nilai penelitian )
5) Educational value
( Nilai pendidikan )
6) Documentary value
( Nilai dokumentasi )
Nilai
ALFRED berkisar antara 0 s.d. 100 dihutung berdasarkan jumlah presentase.Ada 4
golongan arsip antara lain sebagai berikut :
1) Arsip
Vital ( presentase nilai 90 – 100 )
2) Arsip
penting ( Prsentase nilai 50 – 89 )
3) Arsip
berguna ( presentase nilai 10 – 49 )
4) Arsip
tidak berguna ( presentase nilai 0 – 9 )
8.
Penemuan kembali arsip
Merupakan
salah satu kegiatan dalam bidang kearsipan, yang bertujuan untuk menemukan
kembali arsip dalam bentuk fisiknya akan tetapi menemukan informasi yang
terkandung di dalam arsip-arsip tersebut.
Penemuan Kembali Arsip menurut Sistem
kearsipan Pola Baru adalah sebagai berikut :
a.
Menentukan
pokok masalah yang akan dicari.
b. Setelah pokok masalah tersebut diketahui,
diteruskan dengan mencocokkan pokok masalah pada kartu kendali, jika kartu
kendali tidak ditemukan dapat dilihat pada kartu tunjuk silang atau lembar
peminjaman arsip.
c. Kemudian dilanjutkan dengan mengetahui kode arsip
yang dicari dengan melihat kartu indeks.
d.
Dengan
mengetahui kode arsip tersebut, selanjutnya dapat diketahui dalam laci
9.
Pemeliharaan Arsip
Pemeliharaan dimulai dari
keamanannya, baik segi kuantitas (tidak ada yang tercecer), kualitas (tidak
mengalami kerusakan), informalitas (kerahasiaannya).
Pemeliharaan
arsip secara fisik dengan cara :
a.
Pengaturan ruangan.
b.
Pemeliharaan tempat penyimpanan.
c.
Penggunaan bahan – bahan pencegah.
d.
Larangan – larangan yang tidak boleh di
langgar.
e.
Kebersihan.
10.
Jadwal retensi arsip
Berdasarkan petunjuk yang
dikeluarkan oleh kepala Arsip Nasional Republik Indonesia pada tanggal 10
November 1977. Yang dimaksud dengan jadwal retensi adalah suatu daftar yang
memuat kebijaksanaan seberapa jauh sekelompok arsip disimpan atau dimusnahkan.
Dengan demikian daftar retensi adalah suatu daftar yang menunjukkan :
a.
Lamanya masing – masing arsip disimpan
pada file aktif (di satuan kerja) sebelum dipindahkan ke pusat penyimpanan
arsip ( file Inaktif).
b.
Jangka waktu lamanya penyimpanan masing
– masing atau sekelompok arsip sebelum dimusnahkan ataupun dipindahkan ke Arsip
Nasional RI.
11.
Pemusnahan arsip
Pemusnahan arsip umumnya dilakukan
5 tahun sekali (file inaktif), selum dilakukan pemusnahan arsip ada baiknya di
buatkan Mikrofilmnya (Arsip direkam pada film) terutama arsip penting. Pemusnahan
dilaksanakan oleh penanggung jawab kearsipan dan 2 orang saksi dari unit lain.prosedur
pemusnahan umumnya terdiri dari langkah – langkah sbb :
a.
Seleksi arsip.
b.
Pembuatan daftar jenis arsip yang
dimusnahkan (Daftar pertelaan).
c.
Pembuatan berita acara pemusnahan.
d.
Pelaksanaan pemusnahan dengan saksi –
saksi .
Setelah dilakukan pemusnahan Berita Acara dan Daftar Pertelaan
ditandatangani oleh penanggung jawab pemusnahan dan 2 saksi. Dan pemusnahan arsip
dapat dilakukan dengan cara pembakaran.,penghancuran dengan mesin penghancur
kertas, proses kimiawi.
12.
Perencanaan SDM (Sumber daya manusia)
Ada
bebera kegiatan perencanaan SDM, yaitu :
a.
Penentuan kebutuhan jabatan yang diisi.
b.
Pemahaman pasar tenaga kerja yang ada,
dimana ada calon karyawan yang potensial.
c.
Pertimbangan kondisi permintaan dan
penawaran karyawan
Kemudian selain perencanaan tadi ada
juga pelatihan dan pengembangan SDM dengan tujuan pengembangan karyawan untuk
memperbaiki efektifitas dan efesiensi kerja karyawan dalam mencapai hasil
kerjan yang telah ditetapkan.
BAB III
HASIL OBSERVASI
A.
Profil Puskesmas Bantul II
1.
Gambaran Umum
a. Keadaan
Geografis
1) Data Wilayah
Puskesmas Bantul II memiliki wilayah
kerja seluas10,074 m² dengan data wilayah sebagai berikut :
a) Wilayah kerja Puskesmas Bantul II
terletak pada ketinggian 60 m di atas permukaan air laut.
b) Suhu minimum : 20°C
Suhu Maksimum : 36°C
c) Titik Koordinat :
LS : 07,572°
BT : 110,327°
d) Curah hujan : Jumlah hari dengan
curah hujan terbanyak adalah 32 hari danbanyaknya curah hujan adalah 33.000
mm/tahun.
e) Bentuk wilayah :
(1) Datar
sampai berombak : 100%
(2) Berombak sampai berbukit : 0%
(3) Berbukit sampai bergunung : 0%
2) Batas Wilayah Kerja puskesmas Bantul
II
Utara : Kecamatan Sewon
Timur : Kecamatan Jetis
Selatan : Wilayah kerja Puskesmas
Bantul I
Barat : Kecamatan Pajangan
3) Puskesmas bertanggung jawab atas
wilayah kerja yang ditetapkan dalam bentuk kegiatan terdiri dari :
a) Upaya Kesehatan Wajib, meliputi :
(1)Upaya Promosi Kesehatan.
(2)Upaya Kesehatan Lingkungan
(3)Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
(4)Upaya Perbaikan Gizi
(5)Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
(6)Upaya Pengobatan
b)
Upaya Kesehatan Pengembangan
(1) Upaya Kesehatan Sekolah
(2) Upaya Kesehatan Masyarakat
(3) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
(4) Upaya Kesehatan Jiwa
(5) Upaya Kesehatan Mata
(6) Upaya Kesehatan Usia Lanjut
(7) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat bersifat upaya inovasi,
yakni upaya lain di luar upaya puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan
kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka
mempercepat tercapainya visi puskesmas.
2.
Visi dan Misi
a. Visi
Adalah
“Menjadikan Puskesmas Dambaan Masyarakat”
b.
Misi
1)
Mengutamakan Pelayanan kepada
masyarakat.
2)
Melibatkan peran aktif
masyarakat
3)
Mengoptimalkan kinerja untuk menjadikan
SDM yang profesional dalam memberikan pelayanan prima
B.
Masalah Kearsipan di Puskesmas Bantul II
1. Kendala
apa yang sering terjadi dalam RM khususnya di kearsipan ?
Kendala
SIG (system informasi gesh) jika SIG
ini tidak berfungsi dikarenakan gangguan jaringan ataupun tekhnis lainnya maka
digunakan buku panduan dan agenda manual, tetapi cara manual menghabiskan waktu
yang cukup lama dan memperlabat antrian dan pelayanan kesehatan. Puskesmas Bantul II juga
menggunakan sistem penyimpanan Rekama medis dengan sistem Nomor langsung
tepatnya Straight Numeric.
2. Apa
saja kekurangan dalam sitem kearsipan sampai saat ini?
Sistem
pemyimpananan yang masih belum dikatakan baik karena keterbatasan SDM (sumber
daya manusia), dan juga penataan arsip yang belum teratur dengan baik. Serta
kurang tanggapnya petugas menanggapi surat masuk/ keluar untuk membuat lembar
disposisi (surat masuk)
3. Bagaimanabentuk
system kearsipan di puskesmasbantul2 ?
System
yang digunakan di Puskesmas Bantul II menggunakan system nomor.
4. Kendala
apa saja yang dialami saat mengarsip,misalnya saat mengarsip surat-menyurat ?
Terjadinya
Miskomunikasi antara ruangan yang mengeluarkan surat baik dari segi tata letak
logo, kop surat, dan juga margin yang berbeda setia ruangan.
5. Puskesmas
Bantul II apa sudah memilik tempat khusus kearsipan misalkan ruang kearsipan
tersendiri?
Ruang khusus kearsipan belum ada di Puskesmas
Bantul II dan untuk saat ini Arsip menempel atau di tempatkan pada Meja dan
laci kerja masing – masing petugas penanggung jawab.
6. Apakah
system menyimpanan yang digunakan dapat diterapkan pada setiap organisasi dan mengikuti
perkembangan?
Lebih
mudah menggunakan Kode angka guna mengefektifkan dan tingkat efisiensi yang
lebih. Dan bisa atau tidak bisanya diterapkan di suatu organisasi lain
tergantung organisasi tersebut.
7. Bagaimana
pengawasan dalam bidang kearsipan ?
Pegawasan
karsipan di limpahkan penuh kepada penanggung jawab arsip atau ruangan tersebut
dan menjadi tanggung jawab masing – masing.
8. Bagaimana
pemeliharaan system arsip di puskesmasbantul 2?
Sistem
pemeliharaan arsip di limpahkan penuh kepada penanggung jawab arsip atau
ruangan tersebut dan menjadi tanggung jawab masing – masing dan inilah yang
membuat terbengkalainya arsip dan banyak kerusakan dan kehilangan arsip karena
minimnya SDM.
9. Bagaimana
pemusnahan arsip masuk yang sudah tidak digunakan ?
Pemusnahan
arsip inaktif yang sudah lama 5 tahun sekali baru dikeluarkan dan dipisahkan
dari arsip aktif. Dan biasanya di kilokan.karena belum bia melaksanakan
pemusnahan arsip.
10. Bagaimana
penyusunan arsip masuk? Contohnya ada surat baru masuk dan dimasukan kedalam
arsip, letaknya didepan atau dibelakang?
Kurangnya SDM sehinggsa menumpuknya arsip untuk di
disposisi dan semakin lama untuk di tindak lanjuti dan untuk penyimpanan arsip dalam ordner semakin
lama dan akan terus tertundan sehingga terjadi penumpukan arsip.
11. Dimana
penyimpanan surat masuk dan surat keluar sebelum dimasukan kesistem arsip?
Puskesmas Bantul II belum memiliki
lemari untuk di singgahkan sebelum masuk lemari arsip, tetapi Puskesmas Bantul
II menggunakan Map bantu untuk persinggahan sementara surat tersebut setelah di
disposisi dan di tindak lanjuti.
12. Bagaimana
strategi dalam penyimpananya di dalam rak ?
Strategi yang digunaka sebenarnya sama
dengan instansi/ Organisasi lain yang menggunakan sistem nomor, dengan
mengelompokkan berdasarkan kode nomor yang sudah di sepakati di Puskesmas
Bantul II dan adanya buku agenda surat masuk dan keluar sebagai dokumentasi
perjalanan/ riwayat surat yang masuk dan keluar dari Puskesmas Bantul II.
13. Sebelum
pemusnahan arsip yang sudah tidak di pergunakan arsip tersebut disimpan dimana ?
Puskesmas Bantul II belum memiliki
tempat atau ruangan untuk menyimpan arsip inaktif yang akan di musnahkan, dan
masih berada dalam satu rak penyimpanan dengan arsip aktif, tetapi terpisah
dantidak menumpuk menjadi satu tumpukan.
14. Bagaimana
Sistem pemusnahan Kearsipan/ Arsip di puskesemas ini ?
Adanya pembuatan berita acara, kemudian
diapatkan/ dimusyaarahkan dengan penanggung jawab arsip dan juga dengan petugas
lainnya, serta pemilahan kembali arsip – arsip yang di anggap masih penting dan
masih di gunakan sebelum dilakukan pemusnahan.
15. Bagaimana
Solusi mekanisme dari pemindahan, pemusnahan dan penyerahan arsip yang berlaku
di puskesmas ini ?
Perlu di tambahnya jumlah personil/ SDM
guna mendukung kegiatan kearsipan di Puskesmas Bantul II, dan melaksanakan
tugas sesuai JUKLAK ( petunjuk pelaksanaan) dan JUKNIS (petunjuk teknis) dan
juga AD/ART Puskesmas Bantul II.
BAB IV
PEMBAHASAN
A.
Pembahasan
Hasil Observasi dan Teori Kearsipan
1. Kendala
apa yang sering terjadi dalam RM khususnya di kearsipan Dan Pertimbangan Teori
Kendala
SIG (system informasi gesh) jika SIG
ini tidak berfungsi dikarenakan gangguan jaringan ataupun tekhnis lainnya maka
digunakan buku panduan dan agenda manual, tetapi cara manual menghabiskan waktu
yang cukup lama dan memperlabat antrian dan pelayanan kesehatan. Puskesmas Bantul II juga
menggunakan sistem penyimpanan Rekama medis dengan sistem Nomor langsung
tepatnya Straight Numeric. Kendala
yang berkaitan dengan SIG merupakan masalah yang bisa di tanggulangi dengan
sebuah jaringan yang bagus atau memperbaiki jaringan dan puskesmas pasti
memiliki pencatatan manual guna mengantisipasi tersebut sepeti di Puskesmas
Bantul II sehingga itu teratasi.
Puskesmas
bantul II juga menggunakan sistem Straight
numeri sehingga muncul masalah – masalah seperti Misfile , menurut teori
menjelaskan memang sistem ini memiliki kekurangan dan kerugian, Kerugian salah
satunya adalah misfile.
2. Apa
saja kekurangan dalam sitem kearsipan sampai saat ini dan Pertimbangan Teori.
Sistem
pemyimpananan yang masih belum dikatakan baik karena keterbatasan SDM (sumber daya
manusia), dan juga penataan arsip yang belum teratur dengan baik. Serta kurang
tanggapnya petugas menanggapi surat masuk/ keluar untuk membuat lembar
disposisi (surat masuk).
SDM
yang kurang tanggap adalah masalah klasik dalam dunia kerja karena dalam tubuh
manusia memiliki sifat – sifat, salah satunya sifat malas/ pemalas sehingga
melalaikan tugasnya. Untuk menghindari hal ini perlu di lakukan kegiatan
perencanaan SDM.
Ada bebera kegiatan perencanaan SDM, yaitu :
a.
Penentuan kebutuhan jabatan yang diisi.
b.
Pemahaman pasar tenaga kerja yang ada,
dimana ada calon karyawan yang potensial.
c.
Pertimbangan kondisi permintaan dan
penawaran karyawan
Kegiatan di atas perlu dilakukan karena
akan membantu perencanaan SDM yang efektif.
3. Bagaimana
bentuk system kearsipan di Puskesmas Bantul II dan pertimbangan Teori.
Sistem
yang digunakan di Puskesmas Bantul II menggunakan system nomor.
Dan teori menjelaskan bahwasanya
sistem kearsipan dengan sistem nomor Merupakan penyimpanan arsip yang akan
disimpan diberi nomor kode dengan angka – angaka. Berarti dalam pengkodean
surat digunakanlah pengkodean dengan nomor – nomor yang disepakati oleh
instansi tepatnya oleh Puskesmas Bantul II.
4. Kendala
apa saja yang dialami saat mengarsip,misalnya saat mengarsip surat-menyurat dan
pertimbangan Teori.
Terjadinya
Miskomunikasi antara ruangan yang mengeluarkan surat baik dari segi tata letak
logo, kop surat, dan juga margin yang berbeda setia ruangan. Hal ini
dikarenakan prosedur yang tidak berurutan atau dari segi administrasi urutan
penanganan surat yang keluar dari Puskesmas Bantul II ini tidak ada pengecekan
konsep surat sehingga terjadi miskomunikasi antara petugas padahal dalam
teorinya prosedur penanganan surat keluar yang baik adalah sebagai berikut :
1) Pembuatan
konsep
2) Persetujuan
konsep
3) Pencatatan
Surat
4) Pengetikan
Konsep Surat
5) Pemeriksaan
Pengetikan
6) Penandatanganan
Surat
7) Pemberian
Cap Dinas
8) Melipat
surat dan Penyampulan surat (dengan Kop dan nomor surat).
9) Pengiriman
surat.
10) Penyimpanan arsip surat.
Ketika prosedur ini mampu
dijalankan atau di aplikasikan insyallah miskomunikasi yang terjadi akan
diminimalisir.
5. Puskesmas
Bantul II apa sudah memilik tempat khusus kearsipan misalkan ruang kearsipan tersendiri
dan pertimbangan Teori.
Ruang
khusus kearsipan belum ada di Puskesmas Bantul II dan untuk saat ini Arsip
menempel atau di tempatkan pada Meja dan laci kerja masing – masing petugas
penanggung jawab. Hal ini akan menyebabkan kerusakan arsip yang ada karena
pengaturan ruangan yang belum menjadi pertimbangan pihak Puskesmas Bantul II
sedangkan Pengaturan ruangan dalam kearsipan merupakan salah satu cara
pemeliharaan arsip secara fisik. Adapun cara pemeliharaan arsip secara fisik menurut
teori aalah sebagai berikut :
a.
Pengaturan ruangan.
b.
Pemeliharaan tempat penyimpanan.
c.
Penggunaan bahan – bahan pencegah.
d.
Larangan – larangan yang tidak boleh di
langgar.
e.
Kebersihan.
6. Apakah
system menyimpanan yang digunakan dapat diterapkan pada setiap organisasi dan
mengikuti perkembangan dan pertimbangan Teori.
Lebih
mudah menggunakan Kode angka guna mengefektifkan dan tingkat efisiensi yang
lebih. Dan bisa atau tidak bisanya diterapkan di suatu organisasi lain
tergantung organisasi tersebut.
Dikatakan
demikian karena Sistem nomor adalah sistem yang menerapkan sistem kode dengan
menggunakan nomor/ angka dimana yang kita ketahui bahwa sistem penomoran juga
digunakan dalam arsip rekam medis sehingga berguna untuk menyelaraskan arsip di
instansi Puskesmas Bantul II. Dan siste penomoran ini mudah dipahami karena
sudah melekat dari pertama Puskesmas ini berdiri.
7. Bagaimana
pengawasan dalam bidang kearsipan dan pertimbangan Teori.
Pegawasan
karsipan di limpahkan penuh kepada penanggung jawab arsip atau ruangan tersebut
dan menjadi tanggung jawab masing – masing. Hal ini sangat bagus karena petugas
yang bertanggung jawab adalah petugas yang tau persis keadaan arsipnya dan
mengetahui keseluruhan mengenai arsip tersebut.
Petugas/
penanggung jawab arsip diberikan tanggung jawab penuh untuk mengawasi arsipnya
sangat bagus karena akan melahirkan larangan –larangan secara tidak langsung
agar orang lain tidak mengganggu dan mengusik arsipnya, sesuai dengan teori
cara pemeliharaan arsip secara fisik, yang salah satunya, yaitu larangan –
larangan yang tidak boleh di langgar.
8. Bagaimana
pemeliharaan system arsip di Puskesmas Bantul II dan pertimbangan Teori.
Sistem pemeliharaan arsip di
limpahkan penuh kepada penanggung jawab arsip atau ruangan tersebut dan menjadi
tanggung jawab masing – masing dan inilah yang membuat terbengkalainya arsip
dan banyak kerusakan dan kehilangan arsip karena minimnya SDM.
Dan sebenernya atau seharusnya
arsip memang harus diletakkan atau disimpan di ruangan penyimpanan arsip
sehingga tidak terjadi kerusakan arsip, dan apabila berkaitan dengan SDM yang
terbatas. Maka boleh dilakukan/ Pelatihan guna pengembangan karyawan untuk
memperbaiki efektifitas dan efesiensi kerja karyawan dalam mencapai hasil
kerjan yang telah ditetapkan.
9. Bagaimana
pemusnahan arsip masuk yang sudah tidak digunakan dan pertimbangan Teori.
Pemusnahan
arsip inaktif yang sudah lama 5 tahun sekali baru dikeluarkan dan dipisahkan
dari arsip aktif. Dan biasanya di kilokan.karena belum biaya untuk melaksanakan
pemusnahan arsip. Hal ini menjadi masalah yang cukup seius karena tidak adanya
pemusnahan dan bisa jadi arsip rahasia akan terbaca di tempat kiloan maka harus
dilakukan pemusnahan yang sesuai dengan teori, yaitu dengan 3 cara adalah
sebagai berikut :
a.
Pembakaran.
b.
Penghancuran dengan mesin penghancur
kertas.
c.
Proses kimiawi.
Cara ini mampu meminimalisir kerahasiaan
arsip setelah di musnahkan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
10. Bagaimana
penyusunan arsip masuk dan pertimbangan Teori.
Kurangnya SDM sehingga menumpuknya arsip untuk di disposisi
dan semakin lama untuk di tindak lanjuti dan
untuk penyimpanan arsip dalam ordner semakin lama dan akan terus
tertundan sehingga terjadi penumpukan arsip. SDM merupakan hal yang masih
klasik karena memiliki dan memelihara sifat pemalas. Dan kurangnya training
sehingga terjadi Pendisposisian surat/arsip. Padahal di dalam teorinya
menjelaskan training diperlukan karena untuk memperbaiki efektifitas dan
efesiensi kerja karyawan dalam mencapai hasil kerjan yang telah ditetapkan. Dan
juga dari sisi instansi puskesmas harus memikirkan kembali perencanaan SDM
dengan baik dan benar.
11. Dimana
penyimpanan surat masuk dan surat keluar sebelum dimasukan kesistem arsip dan
pertimbangan Teori.
Puskesmas Bantul II belum memiliki
lemari untuk di singgahkan sebelum masuk lemari arsip, tetapi Puskesmas Bantul
II menggunakan Map bantu untuk persinggahan sementara surat tersebut setelah di
disposisi dan di tindak lanjuti.
Peralatan dan perlengkapan merupan faktor pendukung karena akan memudahkan proses sistem
kearsipan, dimana yang kita ketahui peralatan dan perlengkapan di gunakan untuk
dapat menata arsip dengan kecepatan tinggi dan sedikit kesalahan di perlukan
peralatan dan perlengkapan yang sanggup menjalankan fungsi setiap sistem dan
metode dengan sebaik –baiknya.
12. Bagaimana
strategi dalam penyimpananya arsip dan pertimbangan Teori.
Strategi yang digunaka sebenarnya sama
dengan instansi/ Organisasi lain yang menggunakan sistem nomor, dengan
mengelompokkan berdasarkan kode nomor yang sudah di sepakati di Puskesmas
Bantul II dan adanya buku agenda surat masuk dan keluar sebagai dokumentasi
perjalanan/ riwayat surat yang masuk dan keluar dari Puskesmas Bantul II.
Penggunaan sistem nomor sangat membantu
pihak Puskesmas Bantul II, karena Puskesmas adalah Instansi kesehatan dimana
akan membutuhkan Rekam Medis seperti yang kita ketahui Rekam Medis ini
menggunakan penomoran dalam penyimpanan arsipnya sehingga berjalan selaras
dengan sistem arsip di instansi ini. Penggunaan agenda juga sangat memudahkan
petugas dalam mengarsip karena sesuai prosedur arsip/ surat yang masuk seperti
di dalam teorinya sebagai berikut :
a.
Penerimaan surat.
b.
Penyortiran surat.
c.
Pencatatan surat.
d.
Pengarahan surat.
e.
Penyampaian surat.
f. Penyimpanan arsip surat.
Prosedur di atas merupakan hal yang akan mendukung terciptanya sistem
kearsipan yang baik dan benar .
13. Sebelum
pemusnahan arsip yang sudah tidak di pergunakan arsip terdapat ruangan
penyimpanan dan pertimbangan Teori.
Puskesmas Bantul II belum memiliki
tempat atau ruangan untuk menyimpan arsip inaktif yang akan di musnahkan, dan
masih berada dalam satu rak penyimpanan dengan arsip aktif, tetapi terpisah dan
tidak menumpuk menjadi satu tumpukan.
Tetapi hal ini tidak sesuai dengan teori
dan akan menimbulkan banyak masalah dikemudian hari sehingga akan terjadi juga
kerusakan arsip tidak hanya kerusakan fisik tetapi kerusakan biologis dan
kerusakan lainnya, maka harus ada ruangan tersendiri untuk memudahkan proses
pemusnahan arsi untuk mengantisipasi penumpukan arsip sehingga memudahkan
sleksi arsip/berkas dalam pemusnahannya nanti sesuai dalam teorinya pemusnahan
diantaranya sebagai berikut :
a.
Seleksi arsip.
b.
Pembuatan daftar jenis arsip yang
dimusnahkan (Daftar pertelaan).
c.
Pembuatan berita acara pemusnahan.
d.
Pelaksanaan pemusnahan dengan saksi –
saksi .
Ketika teori ini diterapkan maka dengan
sendirinya akan mengurangi penumpukan arsip yang ada dan arsip akan terpelihara
dengan baik.
14. Bagaimana
Sistem pemusnahan Kearsipan/ Arsip di puskesemas Bantul II dan pertimbangan
Teori.
Adanya pembuatan berita acara, kemudian
diapatkan/ dimusyaarahkan dengan penanggung jawab arsip dan juga dengan petugas
lainnya, serta pemilahan kembali arsip – arsip yang di anggap masih penting dan
masih di gunakan sebelum dilakukan pemusnahan. Hal ini merupakan masih rencana
yang dipaparkan oleh pihak Puskesmas Bantul II karena keterbatasan dalam
pembiayaan sehingga ini masih rencana yang insyallah akan dilaksanakan ketika
semuanya terpenuhi sehingga terciptanya sistem kearsipan yang baik.
Pemusnahan arsip umumnya dilakukan 5 tahun sekali (file inaktif), selum
dilakukan pemusnahan arsip ada baiknya di buatkan Mikrofilmnya (Arsip direkam
pada film) terutama arsip penting. Pemusnahan dilaksanakan oleh penanggung
jawab kearsipan dan 2 orang saksi dari unit lain.prosedur pemusnahan umumnya
terdiri dari langkah – langkah sbb :
a.
Seleksi arsip
b.
Pembuatan daftar jenis arsip yang dimusnahkan
(Daftar pertelaan).
c.
Pembuatan berita acara pemusnahan.
d.
Pelaksanaan pemusnahan dengan saksi –
saksi .
15. Solusi
mekanisme dari pemindahan, pemusnahan dan penyerahan arsip yang berlaku di
puskesmas ini dan pertimbangan Teori.
Perlu di tambahnya jumlah personil/ SDM
guna mendukung kegiatan kearsipan di Puskesmas Bantul II, dan melaksanakan
tugas sesuai JUKLAK ( petunjuk pelaksanaan) dan JUKNIS (petunjuk teknis) dan
juga AD/ART Puskesmas Bantul II. SDM
yang sebenarnya yang dibutuhkan dalam kearsipan sebenarnya adalah orang/
Petugas yang memang paham akan kearsipan. Dan ketika orang yang lulus dengan
label atau gelar terkait kearsipan ini tidak cukup untuk mendukung skill/ keahlian yang dimiliki, maka
dibutuhkanlah pelatihan (Training) Sesuai
dengan teori menjelaskan Pelatihan(Training)
Mampu untuk mendukung efektisfitas dan efesiensi petugas/SDM dalam
memberikan kontribusinya di Instansi tempat bekerja tepatnya di Puskesmas
Bantul II sesuai dengan JUKLAK,JUKNIS dan AD/ART yang berlaku.
BAB V
DESIGN MANAJEMEN KEARSIPAN
A.
Design
Manajemen Kearsipan Puskesmas Bantul II
1. Perencanaan
SDM yang Baik dan Training SDM di Puskesmas Bantul II
Perencanaan SDM yang matang akan menentukan gerakan
instansi/ Puskesmas Bantul II karena ketika SDM di rencanakan dengan baik maka
akan tercipta Instansi Puskesmas Bantul yang harmoni dan nyaman. Dan untuk
mendukunganya dibutuhkan Training guna
mendukung keahliannya dalam memberikan kontribusi yang efektif dan efisien.
Ketika SDM didalamnya sudah memberikan kontribusi yang baik maka akan tercipta
juga proses administrasi sistem kearsipan sesuai dengan JUKLAK dan JUKNIS, serta
AD/ART Puskesmas Bantul II..
2. Pemenuhan
Peralatan dan Perlengkapan Serta Ruangan pendukung Kearsipan.
Peralatan dan perlengkapan adalah sesuatu yang sangat membantu sistem
kearsipan karena peralatan dan perlengkapan kearsipan yang sesuai kriteria
berguna untuk dapat menata arsip dengan kecepatan tinggi dan sedikit kesalahan
di perlukan peralatan dan perlengkapan yang sanggup menjalankan fungsi setiap
sistem dan metode dengan sebaik – baiknya.
Peralatan dan perlengkapan kearsipan saja tidak akan cukup apabila
ruangan yang pendukung dalam sistem kearsipan karena dalam sistem kearsipan
dibutuhkan ruangan – ruangan yang mendukungnya agar tidak mempengaruhi atau
bahkan merusak dari segi sistem dan fisik serta fungsi arsip itu sendiri.
3. Menentukan
Klasifikasi Sistem arsip di Puskesmas Bantul II
Penentuan sistem kelasifikasi yang digunakan
instansi/ Puskesmas Bantul II dengan menggunakan “SISTEM NOMOR” karena
menyelaraskan dengan sistem arsip Rekam Medis.
Merupakan penyimpanan arsip yang akan disimpan diberi nomor kode dengan
angka – angaka
4. Penanganan
Surat masuk dan keluar dengan penggunaan buku agenda
Penanganan surat masuk dan keluar
merupakan proses administrasi sistem kearsipan yang harus dipatuhi oleh
SDM/petugas Puskesmas Bantul II dan harus sesuai prosedur, baik surat masuk dan
keluar sehingga tercipta sistem kearsipan yang terstruktural dan baik.
Prosedur penanganan surat masuk sistem buku agenda adalah sebagai
berikut:
a.
Penerimaan surat.
b.
Penyortiran surat.
c.
Pencatatan surat.
d.
Pengarahan surat.
e.
Penyampaian surat.
f.
Penyimpanan
arsip surat.
Prosedur penanganan surat keluar sistem buku agenda adalah sebagai
berikut :
a.
Pembuatan konsep.
b.
Persetujuan konsep
c.
Pencatatan Surat.
d.
Pengetikan Konsep Surat.
e.
Pemeriksaan Pengetikan.
f.
Penandatanganan Surat.
g.
Pemberian Cap Dinas.
h.
Melipat surat dan Penyampulan surat (dengan Kop dan
nomor surat).
i.
Pengiriman surat.
j.
Penyimpanan
arsip surat.
5. Membuat
Standar atau Cara Penemuan kembali Arsip
Menemukan kembali arsip merupakan
sesuatu yang harus di perbaiki dalam manajemen siste kearsipan karena akan
membantu dalam akreditasi Puskesmas Bantul II oleh karenanya standarisasi
penemuan kembali arsip harus dibuat agar sesuai dengan prosedur,ketentuan, dan
juga teori tentang penemuan kembali
arsip.
Seperti teori
penemuan kembali arsip ini, antara lain sebagai berikut :
a.
Menentukan
pokok masalah yang akan dicari.
b. Setelah pokok masalah tersebut diketahui,
diteruskan dengan mencocokkan pokok masalah pada kartu kendali, jika kartu
kendali tidak ditemukan dapat dilihat pada kartu tunjuk silang atau lembar peminjaman
arsip.
c. Kemudian dilanjutkan dengan mengetahui kode arsip
yang dicari dengan melihat kartu indeks.
d.
Dengan
mengetahui kode arsip tersebut, selanjutnya dapat diketahui dalam laci
6. Pemeliharaan
Arsip
Setelah sistem kearsipan tadi dudah
terpenuhi dan terstandarisasi dengan baik maka perlu di fikirkan dan
ditindaklanjuti proses pemeliharaannnya karena dalam pemeliharaan arsip akan
menentukan usia arsip sebelum masuk masa inaktifnya karena sebelum memasuki
masa inaktifnya arsip tidak menutup kemungkinan digunakan/diperlukan kembali.
Dan yang lebih penting adalah pemenuhan ruangan pendukung tempat khusus ruangan
arsip guna untuk perawatan dengan baik dan terperinci dan terjadwal.
Setelah hal tersebut terpenuhi
maka standarisasi prosedur dan cara pemeliharaan arsip dengan baik dan benar
menurut teori pemeliharaan dimulai dari keamanannya, baik segi
kuantitas (tidak ada yang tercecer), kualitas (tidak mengalami kerusakan),
informalitas (kerahasiaannya).
Pemeliharaan arsip secara fisik dengan cara :
a.
Pengaturan
ruangan.
b.
Pemeliharaan tempat penyimpanan.
c.
Penggunaan bahan – bahan pencegah.
d.
Larangan – larangan yang tidak boleh di
langgar.
e.
Kebersihan.
7. Penilaian
Arsip
Setelah dilakukan pemeliharaan maka
dibutuhkan penilaian arsip inaktif guna menentukan arsip – arsip mana saja yang
akan dilakukan penilaian yang kemudian akan berlanjut ke proses pemusnahan.
Penilaian ini harus teliti dan
mempertimbangkan segala sesuatunya
Termasuk prinsip
di dalamnya guna guna menjaga perjalanan Instabsi Puskesmas Bantul II, ada 3
prinsip yaitu Prinsip manfaat,
Kecepatan, dan Efesiensinya. Saya ambil contoh Prinsip manfaat sebagai berikut
:
a.
Prinsip manfaat
Dengan
penilaian yang dilakukan secara teratur memungkinkan dapat di cek pada setiap
saat, sehingga dapat diketahui : “Cukup baikkah apa yang dilaksanakan ?” dengan
demikian dapat diketahui apakah yang dilaksanakan itu masih cukup bermanfaat,
berarti tidak perlu diadakan perubahan, karena dipandang masih cukup
bermanfaat.
kriteria penilaian arsip yang umum
adalah ALFRED, yaitu :
1) Administrasi
value ( Nilai administrasi )
2) Legal value (
Nilai hukum )
3) Financial value (
Nilai materil/uang)
4) Research value (
Nilai penelitian )
5) Educational value
( Nilai pendidikan )
6) Documentary value
( Nilai dokumentasi )
Nilai
ALFRED berkisar antara 0 s.d. 100 dihutung berdasarkan jumlah presentase. Ada 4
golongan arsip antara lain sebagai berikut :
1) Arsip
Vital ( presentase nilai 90 – 100 )
2) Arsip
penting ( Prsentase nilai 50 – 89 )
3) Arsip
berguna ( presentase nilai 10 – 49 )
4) Arsip
tidak berguna ( presentase nilai 0 – 9 )
8. Pembuatan
Jadwal Retensi Arsip
Setelah dilakukan pemeliharaan yang
baik dan penilaian arsip dengan baik maka jadwal retensi sangat dibutuhkan guna
menentukan mana dan kapan arsip di simpan dan dimusnahkan di Puskesmas Bantul
II.
Pembuatan jadwal retensi arsip pun
sangat dibutuhkan Puskesmas Bantul II guna menjaga kondisi dan volume ruangan
agar tidak ada arsip yang berjubel atau tertumpuk dalam ruangan dan memudahkan
dalam proses pemeliharaan.
Dengan demikian daftar retensi adalah suatu daftar
yang menunjukkan :
a.
Lamanya masing – masing arsip disimpan pada
file aktif (di satuan kerja) sebelum dipindahkan ke pusat penyimpanan arsip (
file Inaktif).
b.
Jangka waktu lamanya penyimpanan masing
– masing atau sekelompok arsip sebelum dimusnahkan ataupun dipindahkan ke Arsip
Nasional RI.
9. Pemusnahan
Arsip
Pemusnahan arsip merupan tahap akhir dalam
sistem kearsipan dan menjadi tolak ukur kemampuan sistem kearsipan di Puskesmas
Bantul II bahwa sanya nantinya akan mrnjadi contoh bagi Puskesmas lainnya
betapa pentingnya pemusnahan dalam sistem manajemen kearsipan.
Akan tetapi
pemusnahan tidak boleh sembarang, dan harus sesuai dengan prosedur guna
mengikuti standar yang ada. prosedur pemusnahan umumnya terdiri
dari langkah – langkah sbb :
a.
Sleksi
Arsip
b.
Pembuatan daftar jenis arsip yang
dimusnahkan (Daftar pertelaan).
c.
Pembuatan berita acara pemusnahan.
d.
Pelaksanaan pemusnahan dengan saksi –
saksi .
Setelah dilakukan pemusnahan Berita Acara dan Daftar Pertelaan
ditandatangani oleh penanggung jawab pemusnahan dan 2 saksi. Dan pemusnahan
arsip dapat dilakukan dengan cara pembakaran.,penghancuran dengan mesin
penghancur kertas, proses kimiawi. Ketika proses ini berjalan dengan baik maka akan
mempermudah Puskesmas Bantul II karena melakuakan proses sistem manajemen
kearsipan dari Penanganan samapai dengan pemusnahannya dan dapat dikatakan
tertib Administrasi.
10. Evaluasi
Tahunan dan Raker
a.
Evaluasi
1)
Di
dalam evaluasi ini akan membahas sejauh mana pencapaian selama 1 tahun tersebut
dan kendala – kendala apa saja yang dihadapi ditahun tersebut sehingga bersama
– sama kita memikirkan solusi dari kendala pada tahun tersebut sehingga mampu
mendukung kegiatan perkantoran dan administrasi didalam Puskesmas Bantul II.
2)
Evaluasi
juga tidak hanya membahas pencapaian tetapi kinerrja SDM di dalamanya guna
mengoreksi ataupun mengapresiasi dalam bentuk penghargaan (Reword) agar SDM di Puskesmas Bantul II semakin termotivasi dalam
memberikan kontribusi terbaiknya dalam mengemban tugasnya sesuai dengan
JUKLAK,JUKNIS, dan AD/ART Puskesmas Bantul II.
b.
Raker
( Rapat kerja)
Menentukan tujuan dan target untuk
tahun-tahun selanjutnya
sudah jelas tujuan utama dari diadakannya raker adalah saatnya para Pimpinan Puskesmas Bantul II menentukan target dan anggarannya. Ini adalah bagian yang penuh emosi karena mungkin ada konflik kepentingan antara beberapa orang–ada yang berani mengambil risiko besar, ada yang butuh anggaran lebih besar untuk mencapai target, dan ada pula yang sebaliknya. Tetapi disini harus ada kebijakan yang tidak menimbulkan konflik berkepanjangan antara SDM di Puskesmas Bantul II sehingga target – target yang sudah dimusyawarahkan mampu menjadi acuan dalam tahun selanjutnya.
sudah jelas tujuan utama dari diadakannya raker adalah saatnya para Pimpinan Puskesmas Bantul II menentukan target dan anggarannya. Ini adalah bagian yang penuh emosi karena mungkin ada konflik kepentingan antara beberapa orang–ada yang berani mengambil risiko besar, ada yang butuh anggaran lebih besar untuk mencapai target, dan ada pula yang sebaliknya. Tetapi disini harus ada kebijakan yang tidak menimbulkan konflik berkepanjangan antara SDM di Puskesmas Bantul II sehingga target – target yang sudah dimusyawarahkan mampu menjadi acuan dalam tahun selanjutnya.
B.
Gambar Design Sistem manajemen kearsipan Untuk Masalah
di Puskesmas Bantul II.
1. Di
Lampirkan
BAB VI
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Puskesmas
merupakan instansi yang sangat mengandalkan tenaga medis dan non medis, tetapi
sering kali dalam manajemen SDMnya menempatkan
sembarang orang/ petugas dalam hal dan sesuatu yang sepele tanpa
mempertimbangkan skill dan kemampuannya seperti layaknya dalam kearsipan Rekam
medis dan juga Kearsipan Arsip lainnya selalu menempatkan sembarang orang
karena menganggap manajemen kearsipan itu adalah hal yang mudah, tetapi pada
kenyataannya ketika SDM itu di tugaskan akan merusak sistem manajemen
kearsipan.
Dan
dalam perencanaan SDM perlu dilakukan rekrutmen dengan kriteria – kriteria yang
sesuai kebutuhan puskesmas sehingga mampu mendukung aktivitas civitas Puskesmas
dan ketika teori berbeda dengan lapangan itu bisa dikatakan wajar, tetapi teori
akan menunjukkan standar manajemen kearsipan yang baik dan benar sehingga ada
pertimbangan – pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam mengambil tindakan dan
melakukan sesuatu di lapangan. Maka dengan itu implementasi dilapangan harus
mengacu pada teori agar terstandarisasi.
Dari
permasalahan SDM yang tidak dipertimbangkan dalam penempatannya sehingga
terjadi masalah – masalah baik masalah tentang kinerja SDMnya dan manajemen
kearsipan yang dihasilkan SDM tersebut dan sering terjadi miskomunikasi antar
unit kerja yang berdampak pada arsip yang di kelolah, tidak hanya SDM tetapi
sistem yang salah dan tidak sesuai teori akan menimbulkan banyak masalah dan
kendala dalam manajemen kearsipan.
Dari
teori – teori yang ada dan implementasi yang ada di Puskesmas bantul II ada
yang sesuai teori dan sudah berjalan dengan baik, serta membantu kegiatan administrasi
dan kearsipan di Puskesmas bantul II. Tidak hanya yang sesuai teeori, tetapi
yang berbeda dengan teori dan tidak diterapkan di puskesmas bantul II ini
seperi :
1. Penilaian
arsip.
2. Pemeliharaan.
3. Retensi
dan jaadwal retensi.
4. Pemusnahan.
Hal
ini tidak dilakuakan karena minimnya ruangan dan keterbatasan dalam anggaran di
puskesmas bantul II dalam membiayai proses pemusnahan. Dan keterbatasan peralatan dan perlengkapan,
serta ruangan membuat proses kearsipan tidak berjalan dengan baik dan benar
diluar kemampuan SDM yang di beri wewenang.
Ketika permasalahan dan teori ini mampu menjadi sebuah solusi,
saya sebagai mahasiswa sekedar memberikan saran atau solusi yang setidaknya
dapat membantu sistem manajemen kearsipan di puskesmas baik dari : Perencanaan
SDM dan penanganan arsip sampai dengan pemusnahan arsip dan juga evaluasi kerja
petugas di Puskesmas Bantul II. Design manajemen kearsipan saya memang
terbilang masih awam dan amatiran karena terlalu mengikuti teori akan tetapi
segala sesuatu yang dimulai dari sebuah perencanaan yang matang dan di akhiri
dengan evaluasi yang mendukung kegiatan Puskemas bantul II.
DAFTAR
PUSTAKA
Amsyah, Zulkifli., 1995, Manajemen Kearsipan.Gramedia Pustaka
Utama,
Jakarta.
Sularso
Mulyono, Drs; Muhsin, Drs; Marimin Drs., 1985, Dasar –
Dasar
Kearsipan,
Liberty,Yogyakarta
Herlambang, Susatyo., 2013, Pengantar Manajemen Cara Mudah Memahami
Ilmu
Manajemen, Gosyen Publishing ,Yogyakarta.
AMAYO.,2015, Modul
Praktikum Manajemen Rekam Medis, Lab.AMAYO
Yogyakarta.
http://adrianiaretha.blogspot.co.id/2015/01/surat-masuk-penanganan-surat- masuk.html
(13/06/2016 ) 20 :20 WIB
http://tugasakhir2013.blogspot.co.id/2015/04/prosedur-penemuan-kembali-arsip-menurut.html(13/06/2016
) 20 :36 WIB
http://puskesmas.bantulkab.go.id/bantul2/gambaran-umum/
(15-06-2016) 21 : 30 WIB
http://puskesmas.bantulkab.go.id/bantul2/visi-dan-misi/
(15-06-2016) 21 : 31 WIB
LAMPIRAN
Gambar Design Manajemen Kearsipan
di Puskesmas Bantul II
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||









Tidak ada komentar:
Posting Komentar